Studi Pertama Soal Varian Covid-19 Inggris Ungkap Kabar Baik Dan Buruk

Oh Begitu - Saat perdana menteri Inggris mengumumkan bahwa mutasi virus Covid-19 baru kemungkinan 70 persen lebih menular dari jenis lainnya, beberapa ahli mempertanyaan perkiraan tersebut.

Ahli menegaskan, perlu lebih banyak data untuk menentukan potensi bahaya jenis virus corona baru dan tidak bisa asal menyimpulkan.

Pasca Inggris mengumumkan adanya varian baru virus corona yang disebut lebih menular, banyak negara di Eropa memberlakukan larangan perjalanan ke atau dari Inggris untuk mengurangi risiko penularan B117 (nama varian baru tersebut).

Mutasi tersebut membawa 17 perubahan genetik, adalah yang pertama untuk mutasi virus corona yang patut dicatat.

Meski mungkin tidak menyebabkan kasus Covid-19 parah, mutasi ini mungkin membuatnya lebih menular.

Beberapa ahli kesehatan bahkan memperinngatkan bahwa perubahan tersebut dapat membuat vaksin yang sudah diciptakan saat ini jadi kurang efektif.

Namun, banyak ahli lain mengatakan mutasi tidak akan berdampak pada vaksin. Sehingga kita tidak usah khawatir.

Bagaimana pun, lebih banyak penelitian tetap harus diperlukan untuk menentukan langkah yang harus diambil ke depan.

Strain baru B117 harus diuji di laboratorium untuk menentukan seberapa parah tingkat penularannya dan apakah mutasi itu dapat menghindari antibodi penetral yang dihasilkan setelah vaksin.

Studi pertama varian Covid-19 Inggris

Studi pertama tentang jenis varian virus corona kini telah keluar. Temuan ini mengingatkan dunia bahwa ancaman B117 cukup serius.

Tindakan ketat termasuk penutupan sekolah dan universitas, serta kampanye vaksinasi yang dipercepat mungkin diperlukan untuk mencegah epidemi B117 tidak terkendali.

Studi ini dilakukan oleh Pusat Pemodelan Matematika Penyakit Menular di London School of Hygiene and Tropical Medicine dan dipublikasikan secara online dalam bentuk pracetak (preprint).

Ilustrasi mutasi virus corona baru. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.SHUTTERSTOCK/Polina Tomtosova Ilustrasi mutasi virus corona baru. Virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan Covid-19.

Para ilmuwan menemukan bahwa varian B117 56 persen lebih menular dibanding jenis lain yang beredar di Inggris. Sebab itu, diperlukan tindakan tambahan untuk mencegah penularan.

Estimasi angkan 56 persen masih kasar karena para peneliti mengumpulkan banyak data.

Di sisi lain, studi ini tidak menemukan bukti bahwa virus tersebut lebih mematikan dari jenis lain. Ini kabar baiknya.

“Mungkin kita perlu mempercepat peluncuran vaksin,” kata Nicholas Davies, penulis utama studi tersebut kepada The New York Times.

“Temuan awal cukup meyakinkan bahwa vaksinasi yang lebih cepat menjadi hal yang sangat penting bagi negara mana pun yang berurusan dengan varian ini atau jenis serupa.”

Dilansir BGR, Jumat (25/12/2020), para ilmuwan tidak mempelajari perilaku virus dalam tes laboratorium tetapi menggunakan model komputer untuk memprediksi tingkat keparahan patogen.

Tes mereka mengesampingkan kemungkinan jenis B117 menjadi lazim di beberapa wilayah Inggris karena orang-orang di tempat-tempat itu lebih banyak beraktivitas daripada yang lain dan cenderung melakukan kontak dengan lebih banyak orang.

Para ilmuwan juga memodelkan apa yang mungkin terjadi selama enam bulan ke depan dan membuat model menggunakan berbagai tingkat pembatasan.

Perawat Israel menyiapkan vaksin Covid-19 untuk disuntikkan di Barzilai Madical Center di kota Ashkelon, pada Minggu (20/12/2020).AP PHOTO/TSAFRIR ABAYOV Perawat Israel menyiapkan vaksin Covid-19 untuk disuntikkan di Barzilai Madical Center di kota Ashkelon, pada Minggu (20/12/2020).

“Peningkatan kasus, rawat inap, dan kematian pada 2021 mungkin melebihi angka pada 2020 jika tidak ada kampanye vaksinasi yang substansial,” tulis laporan tersebut.

Inggris telah mencatat hampir 2,2 juta kasus sepanjang tahun ini, termasuk hampir 70.000 kematian.

Para peneliti mengatakan bahwa menutup sekolah hingga Februari dapat memberi waktu bagi negara. Sementara melonggarkan lockdown akan menyebabkan lonjakan besar dalam kasus.

Model vaksinasi di mana 200.000 orang divaksinasi setiap minggu menunjukkan kecepatan yang terlalu lambat untuk memengaruhi penyebaran virus yang bermutasi.

"Kecepatan seperti itu tidak akan benar-benar dapat mendukung banyak relaksasi dari tindakan pengendalian mana pun," kata Davies.

Jika vaksinasi mingguan mencapai 2 juta, penularan Covid-19 baru bisa turun.

Namun pasokan vaksin masih rendah dan perlu beberapa saat untuk meningkatkan kampanye imunisasi. Bahkan setelah persediaan yang cukup tersedia, tidak jelas apakah negara dapat meningkatkan vaksinasi menjadi 2 juta dalam seminggu.

Seperti studi Covid-19 lainnya, studi ini dapat memperoleh manfaat dari data tambahan, dan mungkin memiliki keterbatasan yang memengaruhi model.

Beberapa ahli yang menganalisis studi untuk The Times menunjukkan beberapa masalah potensial, termasuk asumsi bahwa orang yang berusia di bawah 20 tahun memiliki kemungkinan 50 persen untuk menyebarkan penyakit.

Para peneliti tersebut menjelaskan bahwa mutasi harus ditanggapi dengan serius atau dapat menyebabkan wabah parah lainnya. [Source:Kompas]